Banyak Makan Seblak Super Pedas, Usus bisa Bengkak

Hoax atau Tidak

Postingan ibu bernama Desy Puspita Yulida di akun Facebooknya, pada Minggu lalu tiba-tiba menjadi viral. Dia cerita tentang anaknya yang bernama Salma sepulang sekolah tiba-tiba sakit, perutnya kram dan dilarikan ke RS Immanuel Kopo Bandung, saat diperiksa dokter Instalasi Gawat Darurat, Salma muntah-muntah dan diare.

“Lalu diadakan pemeriksaan cek darah dan rontgen. Hasilnya asam lambung naik, leukosit sel darah putihnya 14.000 lebih,” begitu tulisan Desy.

Dalam postingan itu, Desy menyampaikan hasil diagnosa dokter anaknya mengalami pembengkakan usus, dokter juga berpesan apabila setelah pulang dari rumah sakit Salma masih merasa sakit perut, maka harus puasa selama enam jam dan segera dioperasi.

Dokter sempat bertanya anaknya habis makan apa, Salma menjawab kalau dia suka makan Seblak, jajanan yang ada krupuk mentah tidak digoreng hanya dicelupkan di air panas dan jadi kenyal. Lantas, Dokter menyampaikan banyak menangani kasus seperti ini terjadi setelah anak makan Seblak. Postingan desy inilah yang menjadi viral, bahkan sudah mendapatkan reaksi dan komentar belasan ribu.

Baca Juga :  Divonis Dua Tahun, Kadis PUPR Kota Mojokerto Banding

Menanggapi hal ini, apakah kerupuk seblak kenyal bisa menjadi pemicu usus buntu ?

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Hardinsyah mengatakan tak masuk akal, karena semua makanan yang masuk ke lambung akan dicerna dan dihancurkan. “Makanan itu akan masuk ke usus sudah jadi partikel kecil, kecuali kalau dia batu atau biji jambu yang keras,” kata Hardinsyah.

Kata Hardinsyah, kerupuk seblak yang berasal dari tapioka (aci) tentu sangat bisa diproses dalam lambung. “Daging saja ada yang lebih kenyal, seperti kikil, bisa diproses. Karena ada enzim-enzim di dalam lambung kita. Ada enzim untuk mencerna protein, lemak, karbohidrat,” katanya.

Kecuali, sebelumnya ada endapan, misalnya endapan itu berasal dari biji cabai yang mengendap dan menginfeksi usus atau sebelumnya anak itu punya kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tertentu.
“Mungkin ini puncaknya saja, prosesnya terjadi dulu-dulu, semua harus didalami melalui pembuktian.” Pungkasnya.(sma)