Alif, Bocah Mojokerto yang Tubuhnya Berlubang ditutup Kantong Plastik

Alami kelainan yang disebut Kolostomi

Penderitaan Febrio Nur Alif, bocah asal Gembongan, RT 25 RW 7, Gedek, Mojokerto ini berlangsung sejak dia kecil hingga kini berusia 9 tahun, tubuhnya harus dilubangi untuk membuat saluran pembuangan yang dihubungkan dengan kantong plastik.

Alif yang berasal dari keluarga tidak mampu ini pernah mendapat perawatan di RSUD RA Basoeni Gedek, Mojokerto, karena peralatan medisnya kurang mendukung akhirnya dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya, Keluarga Alif sudah punya kartu BPJS Mandiri, tapi karena nunggak tidak bisa membayar, kartunya pun tidak bisa digunakan.

Sejak umur tujuh bulan, Alif didiagnosa oleh dokter mengalami kolostomi, dan perut kecilnya pun harus dibedah untuk saluran yang digunakan untuk mengeluarkan fases atau tinja yang ditampung dalam kantong kolostomi bag.

Emik, ibunda Alif menceritakan, kalau dulu selalu memakai kolostomi bag yang ditempelkan ditubuhnya, tapi karena harganya lumayan terpaksa diganti kantong plastik biasa.

“Satu kantong kolostomi bag harganya Rp 70 ribu, sekali pakai bisa digunakan untuk tiga hari, tapi karena tidak punya uang terpaksa pakai ini, plastik 1,5 kg sekali kotor bisa langsung ganti, sehari bisa tujuh kali ganti,” jelasnya.

Baca Juga :  Wartawan Mojokerto Sambangi Korban Bencana Pacitan

Waktu Alif berusia 2,5 tahun pernah sakit, dan ditemukan batu sebesar jempol menyumbat saluran air kencing, dan akhirnya di operasi untuk mengangkat batu itu. “dokternya juga heran, kok bisa batu sebesar itu ada di anak usia dua setengah tahun,” kenang perempuan single parent.

Alif juga pernah sekolah, tapi akhirnya berhenti lantaran teman-temannya merasa risih dengan kantong plastik yang menempel ditubuhnya terkadang mengeluarkan aroma tidak sedap.

“Setelah usianya 9 tahun ini, baru berani sekolah, tapi ya hanya belajar nulis dan membaca, kalau kegiatan lainnya gak bisa, karena capek sedikit pasti langsung drop dan kesakitan,” kata Emik sembari berurai air mata.

Saat ini, perempuan 33 tahun ini hanya bisa pasrah dan menunggu uluran tangan para dermawan, karena untuk pengobatan anaknya dia tidak bisa memakai kartu BPJS yang sudah terblokir, dan harus bersusah payah mencari kebutuhannya sendiri.(sma)