Haruskah Kita Perang Berebut Air di Mojokerto ?

Antisipasi Bencana Kekurangan Air

Saat ini air memang masih berlimpah bahkan meluber hingga sebabkan banjir dibeberapa daerah. Seakan terlupa kalau pada waktu tertentu di Mojokerto sering ada warga yang kekurangan air. Penyebabnya, ya karena kurang diperhatikan keberlanjutannya (sustainability) dalam jangka panjang.

Sebenarnya, air merupakan barang ultra essential bagi kelangsungan hidup manusia, kalau terjadi penyusutan (deplesi) bisa menimbulkan berbagai dampak ekonomi dan biaya pun akan menjadi mahal.

Menurut Neher (1990) deplesi air akan berdampak pada kelangkaan air, karena digunakan secara berlebihan, Nehel juga menyinggung air dibawah tanah diibaratkan uang di bank yang dapat menjadi cadangan pada saat musim hujan dan dapat diambil saat musim kemarau. Apabila ketersediaan air dalam tanah habis maka biaya ekstraksi juga akan meningkat.

Air, sebenarnya sumber daya alam (SDA) yang bisa diperbarukan, tapi juga bisa menjadi SDA yang tidak bisa diperbarukan. Meski hari air sudah lewat, tapi mari kita bangkitkan semangat menjaga ketersediaan air untuk hajat hidup kita, dan jangan sampai dikemudian hari justru kita kekurangan air dan perang berebut air.

PROBLEMA AIR

Penggunan air ada yang bersifat konsumtif alias dipakai langsung, seperti dipakai oleh kalangan rumah tangga untuk konsumsi. Namun ada kelompok non konsumtif yang menggunakan air sebagai media, seperti sumber energi listrik, penunjang irigasi, industri maupun sebagai sarana rekreasi.

Pernyataan Bank Dunia dan PBB, seperti yang dilansir suarasurabaya.net menyatakan, saat ini 40% populasi dunia mengalami kelangkaan air dan diprediksi tahun 2030 akan terjadi kelangkaan air yang mengakibatkan 700 juta orang menderita kekurangan air. Para ilmuwan menyebut, ini perang abad ke 21 karena perebutan air.

ANTISIPASI BENCANA REBUTAN AIR

Di Mojokerto sendiri beberapa upaya dilakukan untuk menjaga kelestarian air dan kekuatiran akan kelangkaan air di masa akan datang. Beberapa orang yang tergabung dengan kelompok aliansi air berupaya melestarikan sustainability air.

Baca Juga :  Kasihan, Tiga Desa di Mojokerto Kekeringan Hingga Hari Raya

Aliansi ini merupakan perkumpulan pemangku kepentingan yang terdiri dari pihak swasta, pemerintah dan masyarakat. Kelompok ini bersama-sama membangun visi, misi, sasaran dan strategi pencapaian demi kelestarian air yang berkesinambungan.

Di era sekarang, jumlah penduduk semakin banyak, pertumbuhan industri semakin pesat dan lahan-lahan kosong berubah jadi bangunan, secara otomatis penggunaan air akan semakin besar. Namun ironisnya, justru banyak pohon yang ditebang dialih fungsikan untuk bangunan. Sementara program penanaman pohon (reboisasi) yang tidak sebanding dengan jumlah penanaman pohon yang tebang, padahal bisa menyimpan dan menabung air.

Suatu saat bukan mustahil akan terjadi peperangan merebutkan wilayah yang kaya akan sumber air, karena air merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi oleh semua masyarakat dan industri.

Sebelum air ini langka dan menjadi sumber peperangan, marilah kita jaga bersama keberlanjutannya, minimal dengan melakukan hal yang sederhana, seperti gerakan hemat air, yakni mengunakan air dengan bijak sesuai keperluan dan menabung air dengan membuat serapan air dan menanam pohon disekitar rumah dan lingkungan kita.

Walau hari air dunia sudah terlewati pada tanggal 22 Maret 2018 yang lalu, namun tema hari air se dunia “solusi air berbasis alam” tetap berjalan tanpa batas waktu. Sudahkah kita menabung air ? sudahkah kita peduli dengan sustainability air ?, Bagi yang sudah ayalo kita teruskan dan bagi yang belum ayo kita mulai.

Penulis : Titik Inayati
(Aktivis Perempuan menulis, Konsultan Manajemen dan Dosen FE UWK Surabaya)