Arapaima Gigas Ikan Besar yang Amat Rakus, Butuh Makan 4 kg per hari

Buka Posko Penyerahan Ikan Araipama Gigas

Slider

Banyaknya ikan Araipama Gigas yang dibuang di Kali Brantas benar-benar menjadi perhatian bagi Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur yang menangani pengelolaan ekosistem dan habitat sumber daya alam (SDA). Karena keberadaannya bisa menghabiskan ikan-ikan kecil di Kali Brantas, apalagi sekarang sudah menyebar di perairan Surabaya dan Gresik.

Dodit Ariguntoro, Kepala Seksi Konservasi Wilayah III BBKSDA Jatim mengatakan, ikan Araipama Gigas masuk kategori karnivora rakus yang mampu menghabiskan ikan kecil di sekitarnya. Bahkan dalam sehari ikan ini mampu mengkonsumsi 10 persen dari berat tubuhnya.

“Kalau beratnya 40 kg itu artinya mampu menghabiskan 4 kg per hari, makanya masuk kategori invasif karena rakus. Kalau dibiarkan dan berkembang biak di sungai Brantas akan mengancam ikan-ikan kecil habitat aslinya,” ungkapnya.

Mengingat keberadaan Araipama Gigas di perairan Indonesia membahayakan ekosistem maka banyaknya Araipama Gigas yang ditemukan warga ini mendorong BBKSDA dan BKIPM membuka posko penyerahan ikan arapaima oleh warga maupun penghobi.

Baca Juga :  Pemilik Ikan Arapaima Diminta Serahkan ke Balai Besar Konservasi

“Pembukaan posko ini berdasarkan perintah Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti yang memantau langsung fenomena temuan ikan arapaima,” ungkap Dodit.

Sekedar informasi, Berdasarkan UU nomor 45 Tahun 2009 dan PMKP (Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan) nomor 41 Tahun 2014, arapaima masuk dalam daftar 10 ikan berbahaya yang dilarang masuk ke dalam wilayah perairan atau ekosistem dan habitat ikan di Indonesia. Sebab, masuk dalam kategori invasif.

Dan saat ini, banyak warga di Indonesia yang memelihara ikan Araipama Gigas dengan alasan Hobby, seperti pengusaha berisinial HG di Canggu Jetis yang memiliki puluhan ikan Araipama Gigas dan sebagian dibuang ke Sungai Brantas.

Araipama Gigas juga ada di kolam besar milik Masudin, warga Dusun Ketanen, Desa Banyuarang, Ngoro, Jombang yang mengaku dulu memiliki 9 ekor namun sekarang tinggal 5 ekor.(sma)