Rahasia 3 Kalimat, Mengapa Tidak Lebih Jauh, Lebih Baik atau Semuanya

Ngaji Bareng Gus Khusen

Dalam sebuah ceramah singkat KH Khusen Ilyas, yang lebih akrab dipanggil Gus Khusen, aku sangatlah terkesan dengan tiga kalimat yang dibahas.

Mengapa tidak lebih jauh
Mengapa tidak lebih baik
Mengapa tidak semuanya

Sebuah cerita tentang rahasia tiga kalimat itu akhirnya diurai oleh Rasulullah SAW yang diceritakan Gus Khusen, dalam sebuah ceramah dengan gaya khasnya, singkat, padat, to the poin dan jelas.

Sebelum mengurai kalimat itu, Gus Khusen memberikan sebuah prolog tentang manusia yang ditakdirkan “baik” dan ditakdirkan “tidak baik”, atau lebih pasnya punya sifat baik dan bersifat tidak baik.

Ketika orang itu “baik”, akan selalu merasa kebaikan yang dilakukan masih kurang baik, sebaliknya, ketika orang itu “tidak baik” akan selalu merasa sudah melakukan yang terbaik, dibandingkan yang lain.

Tanpa basa-basi, Gus Khusen pun memulai ceritanya yang diawali dengan kisah seorang sahabat bernama Sa’ban yang selalu Istiqomah dalam beribadah dan selalu sholat berjamaah bersama Rosulullah.

Pada suatu subuh, Sahabat Sa’ban absen Jama’ah di Masjid Nabawi, Madinah. Lantas seusai sholat, Rosul mengajak sahabat datang ke rumah sahabat Sa’ban, ternyata perjalanan menuju rumahnya butuh waktu 2 jam.

Setelah sampai di rumahny, situasinya sangat sepi hingga akhirnya keluarlah istrinya, dan menyampaikan kabar kalau sahabat Sa’ban telah dipanggil Allah dan baru saja dimakamkan.

Lantas Rosulullah SAW bertanya, apa pesan dari Sa’ban karena orang yang meninggal tanpa sakit, biasanya menyampaikan pesan dan kesan.

Istri Sa’ban menjawab, ada tiga kalimat tapi dia tidak mengerti apa maksudnya.

Baca Juga :  Anjal Marak di Mojokerto, Kapolres Ancam Pidanakan Orang Tua

Mengapa tidak lebih jauh
Mengapa tidak lebih baik
Mengapa tidak semuanya

Lantas Rosulullah mengurai arti tiga kalimat itu, Intinya, Sahabat Sa’ban yang Istiqomah dalam beribadah diperlihatkan surga oleh Allah dan kebaikan yang dilakukan, hingga akhirnya menyampaikan tiga kalimat itu..

Pertama, Jarak rumah sahabat Sa’ban dengan Masjid Nabawi cukup jauh butuh dua jam perjalanan, ketika akan dipanggil Allah, sahabat Sa’ban sudah ditunjukkan indahnya surga yang akan diberikan padanya dan bergumam “mengapa tidak lebih jauh”, seandainya rumahnya lebih jauh pasti balasan Allah akan lebih indah.

Kedua, ketika musim dingin Sahabat Sa’ban berangkat ke masjid memakai Jubah rangkap 3 (pertama jubah putih yang bagus, dirangkap dengan jubah warna hitam penahan dingin, dan dilapisi lagi dengan jaket). Saat diperjalanan melihat orang tua akan ke masjid kedinginan, akhirnya diberikanlah jaketnya. Dia bergumam lagi, “Mengapa tidak yang lebih baik”, seandainya jubah putih yang diberikan mungkin balasan Allah akan lebih indah.

Yang ketiga, ketika berangkat ke Masjid melihat orang tua yang kelaparan, akhirnya diajak makan roti dan segelas minuman, rotinya pun dibagi dua. Diapun bergumam “mengapa tidak semuanya.”

Itulah cerita dari Ngaji Bareng Gus Khusen, tentang motivasi berbuat baik yang harus dilakukan secara Istiqomah (terus menerus) tanpa harus merasa sudah baik.

Coretan ini, hanya sebuah ringkasan yang tentu ada kekurangan dan ketidaktepatan maksud dari inti ceramah Gus Khusen, mohon maafkan kami, Santri Nakal yang ingin Insaf.(Sayma Aslah)