Awas, LGBT di Kalangan Pelajar di Mojokerto Marak

Kalangan pelajar di Mojokerto rentan terpengaruh perilaku yang menyimpang, seperti berhubungan sesama jenis atau dikenal dengan LGBT.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, dan Pemberdayaan Perempuan (DP2KBP2) Kabupaten Mojokerto kini sedang getol mengawasi perilaku menyimpang ini.

Diantaranya kasus Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) yang marak di kalangan pelajar. Dari data yang ada, pada tahun 2015 sempat tercatat ada 200 kelompok LGBT yang ada di Mojokerto.

Joedha Hadi, Kepala DP2KBP2 Kabupaten Mojokerto mengatakan, ada tiga titik kumpul komunitas ini yang berada di wilayah Kabupaten dan Kota Mpjokerto.

“Saat ini kita sedang atensi kasus LGBT di kalangan pelajar. Ada tiga titik kumpul komunitas ini di Mojokerto, yaitu joging track, Pantai Panorama Lengkong, dan Benteng Pancasila,” ungkapnya, Sabtu (28/09/2019)

Joedha Hadi juga mengatakan, untuk melakukan pencegahan dibutuhkan peran aktif orang tua dalam mengawasi putra-putrinya, agar tidak terjadi penyimpangan prilaku seksual di kalangan remaja. “Sebagian besar karena lemahnya komunikasi orang tua terhadap anaknya,” tambahnya.

Berita Terkait :  Jaringan Gay Mojokerto Diringkus, saat Layani Pelanggan di Hotel

Sementara untuk menangani masalah ini, DP2KBP2 mengambil langkah preventif dengan melakukan pemetaan di sekolah-sekolah serta melakukan pembinaan karakter siswa.

“Sampai saat ini, kita sudah tangani ke setiap sekolah-sekolah. Tidak bisa perorangan, atau kasus per kasus, tapi harus per komunitas sebab mereka biasanya membentuk kelompok-kelompok kecil,” tegasnya.

Selain itu, kata Joedha, peran guru BK di sekolah sangat penting untuk bisa mengungkap kebiasaan menyimpang ini. Selanjutnya dilakukan pembinaan secara khusus agar tidak semakin terjerumus.

Sementara hasil survei DP2KBP2, kebanyakan pelajar yang memiliki penyimpangan seksual disebabkan tekanan oleh orang tua, patah hati dengan lawan jenis, tidak sengaja menjalin hubungan dengan seseorang dan ternyata sesama jenis.

“Semua elemen masyarakat harus menyikapi hal ini, khususnya para orang tua siswa-siswi, maupun pihak sekolah, dan lingkungan tempat tinggal. Mereka harus diberi perhatian dan jangan dikucilkan,” pungkasnya.(sma/udi)

Baca juga :