Menantang Bahaya, LPBI-NU Bersihkan Dam Sipon, Penyebab Banjir di Mojokerto

Hingga hari ini (05/02/2020), dua Dusun di Desa Tempuran, KecamatanĀ  Sooko, Kabupaten Mojokerto terendam banjir. Menurut data BPBD Kabupaten Mojokerto, air akibat luberan Sungai Watu Dakon sudah menggenangi sebanyak 40 lebih rumah warga di Dusun Bekucuk dan di Dusun Tempuran, Desa Tempuran.

Selain itu banjir juga menggenangi hektaran sawah serta fasilitas umum di Desa Tempuran, seperti Sekolah, Balai Desa hingga Gereja.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, Lembaga Penaggulangan Bencana Indonesia Nahdatul Ulama (LPBI-NU) Kabupaten Mojokerto membersihkan Dam Sipon yang disebut sebagai pemicu banjir yang terjadi di dua Dusun tersebut.

Sejak Selasa kemarin (04/02/2020) LPBI-NU bersama potensi relawan sudah berupaya membersihan sampah berupa ranting pohon yang menyumbat aliran air di Sungai Watu Dakon di Dam Sipon.

Kayu berbagai ukuran di evakuasi secara perlahan oleh anggota LPBI-NU. Mereka menuruni Dam Sipon dengan alat panjat tebing. Seperti Kernmantle Rope ( Tali Karnmantel), Hardness, Carabiner, Ascender, Descender hingga Hammer dan Hanger.

Saiful Anam, Ketua LPBI-NU Kabupaten Mojokerto mengatakan, selain melubernya avur sungai Watu Dakon, salah satu penyebab banjir di dua dusun di Desa Tempuran juga karena tersumbatnya Dam Sipon oleh sampah.

Untuk itu LPBI-NU bersama potensi Relawan yang ada di Mojokerto berupaya membersihkan sumbatan itu agar banjir di Desa Tempuran cepat surut. “Salah satunya memang Dam Sipon, sumbatan disini membuat kurang lancar. Sehingga sejak kemarin mulai kita bersihkan,” terangnya.

Dia juga mengatakan, meski pembersihan dam sipon beresiko tinggi dan kondisi debit air juga cukup deras, pihaknya tetap memprioritaskan keselamatan anggota.

Untuk melakukan evakuasi pohon, anggota harus menuruni Dam Sipon yang memiliki ketinggian hampir 5 meter. Selain itu dia juga mempersiapkan berbagai macam alat seperti Catrol dan juga perlengkapan untuk menuruni Dam.

Sebelumnya, beberapa anggota juga sudah mendapatkan pelatihan dari Badan Sar Nasional (Basarnas) dalam melakukan proses evakuasi vertical rescue (penyelamatan korban di bidang vertical miring)

“Kita menyadari resiko sangat tinggi, jika salah satu tim dari kita ada yang lepas kita tidak membayangkan lagi, otomatis akan terseret derasnya air, namun sebelumnya anggota sudah mendapatkan pelatihan dari Basarna dan ini kita praktikan di sini,” ungkapnya.

Upaya pembersihanpun berbuah hasil, satu persatu sumbatan di Dam Sipon seperti kayu dengan ukuran sedang hingga besar berhasil dievakuasi.

Menurutnya, tingkat kesulitan dalam evakuasi sumbatan di Dam Sipon tak lain karena anggota tidak biasa memprediksi besaran sumbatan yang berada di Dam Sipon. Sehingga pihaknya harus menggunakan cara manual yakni menggergaji setiap kayu ataupun pohon yang menyangkut.

“Kita juga berterimakasih kepada BPBD Kabupaten Mojokerto, karena sudah meminjamkan alat untuk melakukan evakuasi pembersihan dam Sipon,” ujarnya. (sma/adm)

Baca juga :