Dinkes Mojokerto Serius Atasi 5 Problem Kesehatan, Kematian Ibu dan Anak hingga TBC

Raker Kesda Dinkes Kab Mojokerto

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto serius menangani 5 masalah kesehatan yang menjadi skala prioritas. Diantaranya angka kematian Ibu (AKI) dan angka kematian bayi bary lahir (AKB) hingga masalah TBC dan Stunting.

Informasi yang dihinpun suaramojokerto.com, 5 masalah kesehatan tersebut menjadi tema pembahasan dalam rapat kerja kesehatan daerah (rakerkesda) lintas sektoral untuk membuat program terobosan dan mencari solusi.

Dalam rapat kerja tentang sosialisasi dan publikasi masalah kesehatan ini diikuti 200 orang dari berbagai elemen pemangku kebijakan di bidang kesehatan. Mulai dari organisasi profesi kesehatan, rumah sakit pemerintah dan swasta, puskesmas dan ponkesdes, camat, para kepala desa dan organisasi sosial peduli kesehatan.

Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul usai membuka raker di Ayola Hotel, Selasa (23/04) mengatakan, ada lima isu penting yang dibahas dalam Raker Kesda kali ini. Antara lain, penuruan AKI dan AKB, pencegahan penyakit tidak menular, penurunan stunting, eliminasi TBC, serta peningkatan cakupan dan mutu imunisasi.

“Sepanjang tahun 2018 terjadi 19 kematian ibu melahirkan dan 141 kematian bayi baru lahir. Ini yang akan kita carikan solusinya agar bisa ditekan dan mengalami penurunan,” ungkapnya.

Didik juga mengatakan, faktor yang menjadi penyebab mayoritas karena bayi lahir berat badannya kurang maksimal, stunting, asupan gizi saat dalam kandungan rendah

Berita Terkait :  Awas, Kumistebal di Mojokerto Jadi Sarang Penyakit TBC

Selain itu, dinkes juga berupaya mengeliminasi jumlah penderita tuberculosis (TBC), karena tahun 2018 ditemukan lebih dari 1000 penderita TBC di Mojokerto.

“Untuk TBC kami ada inovasi gerakan masyarakat berantas TBC (Gemar Bertasbih), satu rumah satu kader TBC. Untuk mendeteksi penderita TBC karena selama ini susah dideteksi sehingga penularan terjadi. Kami mengutamakan penemuan kasus dulu, baru memberikan pengobatan,” tambahnya.

Didik juga menjelaskan, hal yang menjadi skala prioritas diantaranya memperluas cakupan imunisasi dari 222 desa menjadi 299 desa. “Stunting menjadi masalah nasional, tapi alhamdulillah angka stunting di kami di bawah 30,” terangnya.

Hal lain yang juga tidak ketinggalan dalan pembahasan dalam raker kesda adalah pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular (PTM). Hal ini tidak lepas dari gaya hidup masyarakat yang harus diarahkan pada gaya hidup yabg sehat.

“Kelima isu itu akan dibedah menjadi program-program. Output-nya nanti berupa inovasi. Termasuk solusi lintas sektor, seperti meminimalkan ibu melahirkan terlambat dirujuk dengan mobil siaga desa,” pungkasnya.(sma/udi)

Baca juga :