SDN di Mojokerto Ambruk, Pemkab Janji Benahi Dalam Tahun Ini

Dua atap bangunan kelas di SDN Mojoroto, Kecamatan Jetis, Mojokerto ambruk. Sehingga puluhan siswa terpaksa belajar di bangunan tua rumah dinas kepala sekolah yang saat ini ditempati tukang kebun.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto ternyata mengaku telah mendapat laporan terkait kerusakan yang ada di SDN tersebut. Bahkan usulan perbaikan juga tengah diporses tahun ini.

Catur Irawan, Kabid Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Mojokerto mengatakan, pihaknya telah menerima laporan kerusakan yang terjadi di SDN Mojoroto. ”Iya sudah dianggarkan TA (Tahun Anggaran) 2019,” katanya. Rabu (23/7/2019).

Dia mengaku belum bia merinci terkait realisasi dan alokasi anggaran yang diplot untuk perbaikan bangunan. Sebab saat ini menurutnya,  proyek fisik tengah diproses dan akan segera disentuh perbaikan dalam waktu dekat. ” Yang jelas, sampai saat ini masih dalam proses sesuai mekanisme,” paparnya.

Sebelumnya, Setiyo Herysusanto, guru kelas III dan IV SDN Mojoroto mengatakan, sejak dua atap bangunan kelas V dan VI roboh sejak 2018 lalu, pihak sekolah mengajukan bantuan permohonan kepada pemerintah. Namun hingga saat ini masih belum terealisasi.

Baca Juga :  Sebuah SDN di Mojokerto Terancam Tutup, Karena 5 Tahun Tak Memiliki Siswa Baru

” Terakhir, saya mendapatkan informasi pada bulan Juni 2019 kemarin sudah di ACC dan akan dibangun pada September nanti. Tapi kita tidak tau ya, semoga saja segera terealisasi,” tuturnya.

Kata Setiyo, imbas dua bangunan kelas roboh mengakibatkan puluhan siswa dari kelas V dan VI hari dipindahkan ke bangunan tua rumah dinas kepala sekolah yang biasanya di tempati oleh tukang kebun.

Selain itu fasilitas lain dari SDN Mojoroto seperti kamar mandi, juga tidak bisa digunakan sejak 6 tahun lalu. Selain kelas V dan VI, penggabungan kelas juga terjadi pada kelas III dan IV. Mereka harus belajar didalam satu ruangan berukuran 8×5 meter persegi dengan sekat kayu.

” Jadi satu ruangan yang seharusnya diisi kelas tiga, kita gabung menjadi satu dengan kelas IV. Satu ruangan diisi 33 siswa-siswi,” katanya. (adm/ats)

Baca juga :