Sekolah di Mojokerto Rusak Parah, Siswa Diminta Berlindung Di Bawah Meja

Sebanyak lima ruangan sekolah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sabillurrosyad Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto mengalami kerusakan yang cukup parah.

Kerusakan diduga akibat imbas getaran kendaraan yang melebihi tonase, serta di daerah tempat sekolah ini berdiri diperkirakan ada pergerakkan tanah.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, sekolah yang terletak di Jalan raya Kartini, Dusun Gedagan, Desa Jolotundo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto ini digunakan belajar oleh Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Sekolah Menengah Pertama Islam (SMP-I) Sabilullrosyad.

Sebanyak lima ruangan sekolah yang terdiri dari tiga ruagan kelas 1, 2, 3, satu ruangan UKS dan Perpustakaan saat ini kondisinya sangat memperihatinkan, dindingnya retak-retak dan lantainya ambles.

Terlihat, ada celah di Bagian keramik sepanjang 7 meter dan lebar 1 meter serta amblesnya sekitar 10 cm. Serta beberapa kerusakan lain di 5 ruangan tersebut.

Salah seorang guru agama Madrasah Ibtidaiyah (MI) Sabilullrosyad, Munif mengaku, kerusakan ruangan sekolah terparah terjadi pada bagaian kelas 2 dan ruag Perpustakaan.

“Awalnya, kerusakan hanya terjadi pada ruagan Perpustakaan, kemudian seminggu kemarin kerusakan merembet ke ruagan lain,” ungkapnya. Senin ( 18/11/19 ).

Munip juga mengatakan, total siswa ada 205 anak, namun yang mrnempati ruangan kelas dengan kondisi menghawatirkan ada 87 siswa. Yakni Kelas 1 sebanyak 19 siswa, Kelas 2 ada 35 siswa, dan Kelas 3 terdapat 35 siswa.

Berita Terkait :  127 Sekolah di Mojokerto Rusak, Dispendik Siapkan Rp 3,2 Milyar

Sedangkan siswa SMPI, dari total 105 siswa, yang terdampak hanya 28 siswa Kelas VII yang juga menggunakan ruang Kelas 3 MI. “Ya karena sudah tak ada ruagan lain, jadi dengan terpaksa para siswa tetap mengunakan ruagan ini,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Madrasah MI Sabilullrosyad, Suminto mengatakan, keruskan ruagan sekolah ini diduga karena adanya pergerakkan tanah dan adanya bagunan pabrik yang lokasinya tidak jauh dari sekolah. Sehingga banyak kendaraan besar melebihi tonase melintas.

Kata Suminto, saat ini, pihak sekolah hanya bisa menghimbau siswa untuk segera keluar kelas jikalau jam pelajaran usai. Kalaupun ada sesuatu nantinya, anak-anak sudah kami ajarkan untuk berlindung di bawah meja.

Terkait kondisi sekolah yang mengkhawatirkan ini, pihaknya berharap pemerintah bisa membantu perbaikkan melalui EMIS (Pendis Education Management Information System) Dirjen Pendis Kementrian Agama.

“Sebelumnya tiap tahun kami sudah mencoba mengajukan bantuan lewat online EMIS, terkait keperluan sarana sekolah dan perbaikkannya, namun tidak ada tanggapan. Sekolah ini terakhir mendapatkan sentuhan pembagunan pada 8 tahun yang lalu,” tandasnya.(sma/udi)

Baca juga :