Harga Gula di Mojokerto Tembus Rp 18 Ribu/Kg, Satgas Pangan Pastikan Stok Aman

Harga gula di pasaran Kabupaten Mojokerto tembus Rp 18 per kilogram. Harga ini tentunya lebih mahal dibandingkan harga sebelumnya yang hanya Rp 12.500 perkilo. Meski demikian Tim Satuan Tugas (Satgas) Pangan Kabupaten Mojokerto memastikan stok gula aman.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, hal itu bisa dilihat dari hasil sidak di beberapa pasar tradisional dan juga pabrik gula Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto yang dilakukan oleh petugas gabungan pada Kamis kemarin (09/04/2020).

Ipda Heru Prasetyo Nugroho, Kanit Pidek Satreskrim Polres Mojokerto mengatakan, secara umum, harga sembilan bahan pokok (sembako) di wilayah Kabupaten Mojokerto masih stabil.

Meski demikian, hingga saat ini dirinya belum mengetahui faktor penyebab kenaikan harga gula di pasaran. Karena hasil pantauan di sejumlah pasar, harga tinggi sudah didapat para pedagang dari distributor. Yakni, sekitar Rp16.700/kg.

“Ketersediaan barang ada dan tersedia. Cuma tinggi, khusus untuk gula. Kalau yang lainnya stabil karena ada barang masuk. Di level bawah dipastikan tidak ada permainan soal harga,” jelasnya.

Kanit menjelaskan, hasil koordinasi dari P Gempolkrep untuk produksi gula tahun 2019 lalu lelangnya normal. Pihaknya masih melakukan penelusuran terkait mahalnya harga gula di pasaran, karena ketersediaan barang tidak langka dan di pasar ada namun harga di pasaran tinggi.

Rofi Rosa, Kabid Distribusi dan Cadangan Pangan, Dispari Kabupaten Mojokerto membenarkan, jika harga gula saat ini memang sudah melampaui Harga Eceran Terringgi (HET) gula, berdasarkan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun 2020 Tentang Harga Acuan, yakni Rp12.500 per kilogram. “Permendagnya tidak berubah HET-nya gula Rp12,5 ribu per kilo,” ujarnya.

Menurutnya, dengan tingginya harga gula di pasaran, pemerintah tidak bisa intervensi secara langsung karena sudah menjadi mekanisme pasar. Pemerintah hanya bisa menghimbau dan melakukan operasi pasar dalam upaya menstabilkan harga.

Sementara itu, Pungkasiadi, Bupati Mojokerto menambahkan, meski harga gula di pasaran tinggi namun pihaknya menilai OP (Operasi Pasar) belum dilakukan karena dianggap belum parah.

“Intervensi pusat, pemda tidak bisa apa-apa. Jika ada OP hanya satu produk saja dan OP tidak bisa membuat harga murah. Ngomong gula memang kebutuhan nasional dan mencari tidak mudah. Saat ini barang ada tapi tidak banyak,” tegasnya. (sma/adm)