Perdana di Mojokerto, SMK Asy-Syarif Mitra Industri Miliki TPS3R

Foto: Peresmian TPS3R sekolah SMK Asy-Syarif Mitra Industri, di Desa Brangkal, Sooko, Mojokerto, Jatim dari CSR CCEP (Coca-Cola Europacific Partners) Indonesia.

MOJOKERTO- SMK Asy-Syarif Mitra Industri, menjadi sekolah pertama di Kabupaten Mojokerto yang memiliki TPS3R (Tempat pengolahan sampah Reduce, Reuse, Recycle). Pembangunan TPS3R di kawasan sekolah Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, berasal dari CSR (Corporate Sosial Responsibility) CCEP (Coca-Cola Europacific Partners) Indonesia.

Publik Affairs Manager CCEP Indonesia, Ridvan Bintang Guntara, mengatakan, kegiatan ini merupakan gerakan peduli lingkungan untuk mengurangi sampah.

“TPS3R di sekolah ini perdana di Jawa Timur. Kita industri sebagai kolaborator support sarana prasarana TPS3R di SMK Asy-Syarif kabupaten Mojokerto. Kami juga fasilitasi pelatihan pengolahan manajemen untuk operasional pengolahan sampah untuk guru dan siswa,” ujar dia usai peresmian TPS3R di SMK Asy-Syarif Mitra Industri, Desa Brangkal, Kecamatan Sooko, Selasa (25/2/2025).

Dia menyampaikan, Mojokerto dipilih untuk TPS3R di sekolah bertujuan mengedukasi sejak dini pelajar dalam gerakan mengurangi sampah. TPS3R di SMKAsy-Syarif Mitra Industri dilengkapi mesin pencacah sampah, mesin pres sampah, kendaraan angkut sampah, komposter dan lain-lain.

“Kita dari dulu sudah peduli lingkungan, dan kegiatan ini edukasi sejak dini pelajar SMA sehingga dapat ditularkan ke masyarakat. Untuk sasarannya sekolah, nanti TPS3R di pondok pesantren,” kata Ridvan.

Sumbangsih perusahaan melalui CSR disambut baik oleh Pemkab Mojokerto melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH).

Kabid Penataan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kabupaten Mojokerto, Elia Sutanti, memaparkan TPS3R di sekolah berdampak positif untuk edukasi pelajar dan pemberdayaan masyarakat, sekaligus mewujudkan Indonesia Zero Waste Tahun 2030.

“Kita mengapresiasi karena saat ini sedang dalam darurat sampah, bukan hanya di Mojokerto saja tapi secara nasional. Dan DLH di daerah juga diminta membuat peta jalan untuk pengurangan sampah,” ujarnya.

Elia menyebut metode terbaik mengurangi sampah yaitu dengan mengolahnya melalui TPS3R, sehingga keberadaan TPS3R dapat meminimalisir sampah di sekolah. Nantinya, TPS3R di SMK Asy-Syarif bisa dikolaborasikan dengan Bank Sampah di wilayah setempat.

“Nanti bisa di link kan dengan Bank Sampah jadi dampaknya luas dirasakan masyarakat. Untuk edukasi siswa juga karena pengolahan sampah TPS3R ada yang dibuat pupuk kompos, ada nilai ekonominya,” pungkasnya.

Ketua Forum Komunikasi Peduli Lingkungan, Fatoni menjelaskan saat ini tantangan terbesar adalah mengubah mindset masyarakat untuk memilah dan mengolah sampah karena mayoritas masih menganggap sampah dibuan tanpa diolah.

“Padahal kalau paradigma itu bisa diubah bukan hanya menjadikan lingkungan kita lebih bersih, tetapi juga ada potensi ekonomi. Sehingga target Zero Waste pada 2030 bisa tercapai,” tukasnya.(tim)

Baca juga :