Pasca Puncak Haji, Para Jamaah Gelar Syukuran Haji dan Nama Baru

Setelah melaksanakan rangkaian ibadah haji terutama wukuf di Padang Arafah, mabit di Muzdalifah, lempar jumrah ,towaf ifadoh dan sa’i, maka para jamaah resmi menjadi haji atau hajjah. Namun, gelar haji ini hanya populer dan akrab di Indonesia. Bahkan di Indonesia mereka ramai-ramai mengganti nama sesuai dengan hasil konsultasi dengan kyai atau ulama yang menjadi pembimbing haji.

Informasi yang dihimpun H. Basuni, wartawan Radar Mojokerto langsung dari Arab Saudi mengatakan, pemberian gelar haji ini memang tergolong unik karena hanya ada di Tanah Air. Diluar negeri seperti di Arab Saudi dan negara muslim lainnya jarang digunakan.

Para jamaah haji itu menggelar tsyakuran haji sekaligus tasyakuran nama baru mereka dengan menggelar acara sederhana makan bersama nasi Bukhori dan ayam panggang dan lalapan, Rabu (14/8/2019).

KH Akhmad Basori pembimbing ibadah haji yang juga karom 9 kloter 61 mengatakan, pada dasarnya mereka yang menyelesaikan semua rukun dan wajib dengan sempurna ibarat bayi baru lahir ,” Banyak jamaah yang konsultasi untuk mengganti namanya setelah menyelesaikan rukun dan wajib haji ”ujarnya .

Misalnya Hj. Siti Rochanana semula adalah rochana hanya menambah Siti ,ada juga Karni menjadi Umi Salamah. Karni artinya ibu yang selamatnya pendengarnya. Untuk yang laki-laki nama asli Kaseli diubah namanya menjadi Haji Muhammad Kamali. Sadeli menjadi H. Imam Bochori.

Bahkan mereka menghubingi sanak keluarga di tanah air untuk membuat spanduk atau tulisan selamat datang, atau
bunyi tulisan. Letaknya di depan rumah bagi di kampung yang sebentar lagi akan pulang, usai menunaikan ibadah haji.
Bukan karena apa, tapi perubahan nama yang disandang jamaah haji tersebut.

Marsani begitu nama aslinya. Namun, ia mengganti namanya menjadi Aisyah menunaikan ibadah haji ” Agar namanya lebih barokah ”ujar Haji Muhammad.

Praktik pemberian nama baru sepulang haji, bisa dikatakan telah menjadi tradisi dikalangan umat Islam di Nusantara. Tidak hanya dari kalangan awam, dari ulama juga banyak yang mempraktikannya.

Kiai Muhammad Saleh dari Lateng, Banyuwangi, misalnya. Salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama ini membubuhi namanya menjadi Muhammad Saleh Syamsuddin seusai menunaikan haji pada 1885.

Selain Kiai Saleh juga banyak tokoh lainnya yang mengubah nama ketika haji. Seperti halnya Pengasuh Pesantren Lirboyo KH. Machrus Ali. Sebelum berhaji namanya adalah Rusydi. Ada juga Kiai Salim dari Penataban, Banyuwangi yang berhaji pada dekade 20-an. Ia mengubah namanya menjadi KH. Abdul Wahab. Ada juga seorang tokoh komunis yang dikenal dengan nama Haji Misbach. Sebelum haji ia bernama Darmodiprono.

Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang dikenal dengan akronimnya, Hamka, pernah menuliskan perihal tradisi ganti nama ini yang berjudul “Kenang-Kenangan Hidup”. Ulama asal Sumatra itu, mengenang perjalanan hajinya pada 1927, saat usianya masih 19 tahun.

Praktik pergantian nama itu dilakukan setelah tahalul (menggunting atau mencukur rambut) para jamaah haji. Yakni, pada hari kesepuluh di Mina. Para jamaah haji mengelilingi para syekhnya. Mereka akan diberikan serban oleh si syekh pembimbing haji sebagai tanda telah menunaikan ibadah haji. (sma/adm)

Baca juga :