Pelaku Penganiayaan Santri di Mojokerto Hingga Tewas Belum Jadi Tersangka, Ini Kata Polisi

Polisi belum menetapkan tersangka, terkait kasus dugaan penganiayaan seorang santri di ponpes Mamba’ul Ulum di Jalan Raya Mojosari, Desa Awang-Awang, Kecamatan Mojosari, Mojokerto.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, saat ini polisi masih melakukan langkah dengan meminta keterangan 4 saksi mata. Termasuk melakukan otopsi dan visum terhadap jenazah korban di RS Bhayangkara Pusdik Sabhara Porong, Sidoarjo.

AKP Muhammad Solikhin Fery, Kasat Reskrim Polres Mojokerto mengatakan, dalam menentukan status tersangka, polisi masih menunggu hasil visum dan otopsi serta gelar perkara yang direncanakan hari ini, (21/08/2019).

Hingga saat ini pelaku berinisial WN (17) asal Kecamatan Pacet, Mojokerto masih diperiksa di Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Mojokerto. “Untuk menaikkan status tersangka, kami akan gelar perkara siang ini untuk menentukannya,” terangnya.

Hingga saat ini polisi belum bisa menyebutkan penyebab kematian korban. Namun, Fery mengaku sudah menerima hasil autopsi sementara dari anggotanya. “Hasil autopsi sudah ada, akan kami sampaikan setelah gelar perkara,” katanya.

Sekedar informasi, dalam kasus dugaan penganiyaan ini ada dua korban. Satu korban berinisial PG (15), dan AR. AR diduga dianiaya oleh WN dikamar asramanya pada Senin tengah malam (19/8/2019).

Baca Juga :  Santri di Mojokerto Tewas Dianiaya Pengurus, Ini Komentar Pihak Ponpes

Menurut keterangan PG, WN menendang kepala korban sebanyak dua kali. Selain itu, pelaku juga memukul dada korban dengan tangan kosong. Usai dipukuli, korban muntah darah didalam kamarnya.

Sebelumnya, Kompol Anwar Sudjito, Kapolsek Mojosari menjelaskan, akibat pukulan dan tendangan pelaku, kepala AR membentur dinding kamar asrama. Akibatnya, korban luka parah di kepala belakang sebelah kanan. Korban meninggal saat menjalani perawatan di RSI Sakinah, Mojokerto Selasa kemarin (20/8/2019) sekitar pukul 12.00 WIB.

Disisi lain pengurus pesantren membantah, jika korban meninggal akibat dianiaya seniornya. Menurut mereka, luka parah pada kepala belakang AR akibat terjatuh dari tangga lantai 2 asrama santri. Korban diperkirakan kelelahan, setelah mengikuti lomba gerak jalan Agustusan. (sma/adm)

Baca juga :