Kreatif, Kali Bokong dan Semak di Mojokerto Disulap jadi Urban Farming, Ini Hasilnya

Saat ini, di wilayah perkotaan memang lagi banyak diterapkan konsep urban farming atau pertanian perkotaan. Hal ini juga yang dilakukan sejumlah warga di Kota Mojokerto.

Dengan konsep ini, warga lingkungan Sinoman, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan berhasil menyulap sungai kumuh yang dulu disebut Sungai Bokong dan semak belukar menjadi lahan hijau tempat penananam sayur organik dan budidaya ikan.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, saat ini, lahan milik warga dengan luas 2.717 meter persegi dijadikan pemanfaatan lahan pertanian di tengah perkotaan berbasis Eco Farming.

Kreatifitas masyarakat ini sudah dilakukan sejak enam bulan terakhir, termasuk dengan membudidaya berbagai jenis ikan. Dan ketika panen, hasil sayur maupun ikan-nya dibagikan kepada warga sekitar secara cuma-cuma dan sebagian dijual di pasaran.

Indri Suhermin (52) salah satu warga sekitar mengatakan, sejak adanya pertanian perkotaan ini, sungai yang sebelumnya kumuh menjadi bersih dan indah. Sehingga, menjadi ajang bermain anak.

Indri juga mengatakan, untuk memulai membuat kolam ikan di aliran sungai dan taman, membutuhkan perjuangan untuk mengkompakkan warga.

Hingga akhirnya, semua warga di berinisiatif secara mandiri melakukan pembersihan secara bertahap dan bergantian. “Supaya sungai ini bisa kelihatan bersih, dan bisa diberdayakan untuk kepentingan lingkungan,” ungkapnya.

Sejak adanya kolam ikan, ada warga luar datang untuk sekedar memberi makan ribuan ekor ikan yang mulai berusia tiga bulan, hingga usia siap panen berada di dalam sungai yang tampak jernih.

Lanjutan.. Hasil Panen Dipakai Sedekah dan Dijual Murah, ini model jualnya…

“Pakannya di jual memang cukup Rp 1000 per bungkus. Orang-orang sudah bisa kasih makan, apalagi anak-anak sini suka sekali. Hiburan mendidik buat mereka, kas lingkungan juga terisi,” terangnya.

Selain kolam ikan sungai, pengembangan pemanfaatan lahan pekarangan salah satu warga setempat dengan menanam berbagai jenis sayuran menggunakan metode eco farming juga cukup berhasil.

Hasilnya, tanaman berupa sawi, tomat, terong, hingga pokcoy atau dikenal sawi daging juga sudah tiga kali panen sejak penyemaian enam bulan. “Ini khusus organik, kita pakai pupuk dari RPH,” tambahnya.

Saat panen, selain dibagi-bagi, warga sekitar juga bisa membeli dengan harga murah, satu ikat sawi organik hanya dihargai Rp 800, sedangkan terong ungu dihargai Rp 5.000 per tiga buah. Sekain itu, hasil panen lokal ini bisa juga didapat di E-Waroeng yang ada di Kota Mojokerto.

Sementara, anggota DPRD Kota Mojokerto, Muhammad Harun mengatakan, kepedulian dan kesadaran warga perkotaan seperti ini bisa berhasil, karena dukungan semua elemen.

“Ini dibangun dari sebuah kebersamaan sinergi, terus pada akhirnya ya kita bisa lihat hari ini sungai sudah cukup bersih,” ungkapnya.

Harun juga mengatakan, proyeksi ke depan untuk pengembangan konsep ini, akan memanfaatkan anggaran dana kelurahan hampir sekitar 1 miliar, agar semua di lingkunan ini kelihatan bersih dan rapi.(sma/udi)

Baca juga :