Berbekal Bor dan Gergaji, Tiga Wanita Muda di Mojokerto Produksi Aneka Wooden Craft

Tiga wanita muda di Mojokerto ini terbilang cukup kreatif. Mereka berhasil memproduksi berbagai produk hand made Wooden Craft (kerajinan kayu) yang bernilai jual tinggi.

Bahkan, mereka yang memiliki background mahasiswi seni ini juga kebanjiran order hingga tembus pasar luar jawa yang dijual melalui online.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, tiga wanita ini adalah Amalia Winda (22) mahasiswi jurusan Pendidikan Seni Rupa Unesa Surabaya, Aprilia Hermianti (23) Jurusan Seni Kriya ISI Surakarta, dan Diah Fatma (27) alumni Jurusan Pendidikan Seni Rupa Unesa Surabaya.

Mereka memproduksi hand made Wooden Craft berbahan limbah kayu yang dibentuk dengan menggunakan peralatan pertukangan seperti gergaji, bor hingga gerinda, obeng, pahat, palu, alat serut kayu hingga meteran.

Hasilnya, berupa berbagai Wooden Craft, seperti gantungan kunci, Phone Holder, Stand Wood Earphone Holder, vas bunga kayu, box cincin, Stand Wood Ipad, Stand Wood laptop, hingga Wooden Book Classic Cover.

Aktifitas ini mereka lakukan di rumah mereka di Kelurahan Balongsari, Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto yang dirubah menjadi bengkel produksi yang dipenuhi peralatan pertukangan.

Aprilia Hermianti (23), salah satu mahasiswi mengatakan, ide membuat aneka Wooden Craft ini karen mereka memiliki latar belakang kuliah seni. “Kita terus berpikir bagaimana produk-produk kayu ini bisa diolah,” ungkapnya.

Dari situlah, ketiganya memperoleh limbah kayu hanya dengan harga Rp 70.000 sampai Rp 80.000 per ikat, dan disimpan di area belakang rumah salah satu tim produksi. “Bahan-bahan limbah kayunya seperti kayu pinus, kayu mahoni, kayu jati dan kayu kopi,” ungkapnya.

Kayu bekas tersebut dipilih sesuai dengan materi yang akan dibuat sesuai pesanan customer. “Contoh pesanan diary kayu atau Wooden Book Classic Cover, kita ukur dulu, kemudian dipotong, dan diamplas terlebih dahulu agar hasilnya halus,” paparnya.


Ketiga wanita ini secara bergantian melakukan proses pembuatan. Mulai dari pemilihan bahan kayu, pengukuran dan pemotongan, pengamplasan, pengepresan kayu, pembuatan sketsa, penyoldieran, pemflituran, hingga finishing packkaging.

Seperti Amalia Winda (22) dan Diah Fatma (27), keduanya memiliki kelebihan dalam bidang sketsa. “Saya lebih detail di bagian sketsanya, kalau Apeng dia jurusan Seni Kriya. Jadi untuk pensoldieran dikerjakan Apeng,” kata Winda.

Sementara mengenai pemasarannya, mereka berusaha memasarkan produk handycraft ini melalui online atau media sosial.

Bahkan, sudah mendapat pesanan dari berbagai daerah, termasuk luar pulau Jawa seperti Riau, Sulawesi, dan Kalimantan. “Alhamdulillah sampai saat ini pengerjaan lancar, untuk diary inden tiga hari selesai,” tandasnya.

Sementara hasil karya seni mereka dijual dengan harga bervariasi, mulai dari gantungan kunci Rp 10.000 hingga Rp 750.000 untuk hiasan dinding. “Kalau diary kayu sendiri dibanderol dengan harga Rp 85.000 saja lengkap dengan 40 lembar kertas,” pungkasnya.(sma/udi)

Baca juga :