Pemilih Pemula di Pilwali Mojokerto Rentan Money Politik

Budaya Negatif Harus Dirubah

Generasi muda atau yang menjadi pemilih pemula dalam Pilwali Mojokerto seharusnya lebih bisa selektif dalam memilih calon yang dianggap mampu memajukan kotanya. Selain mereka banyak yang masih duduk didunia pendidikan juga belum tercoreng kepentingan-kepentingan politik.

Tapi, itu berbeda dengan pendapat Jeny Yudha Utama, pengamat politik dari universitas Islam Mojopahit (Unim), menurutnya seharusnya mereka bisa lebih selektif dalam memilih berdasarkan hati nurani, tapi budaya politik uang ternyata sudah mulai tertanam dibenaknya lebih awal yang diturunkan dari sesepuhnya.

“Di lingkungan mereka sudah menjadi perbincangan biasa ketika ada yang ngomong, yang ngasih uang ya bakal kita pilih, kata-kata ini sering masuk ke telinga mereka dari banyak sudut pandang,” ungkapnya.

Kata Jeny, imbas dari slogan, jargon, atau kata-kata seperti itu sangat kuat tertanam di benak mereka sehingga butuh cara untuk merubahnya, karena pada dasarnya generasi melilenial ini blselalu berfikir secara logika dan punya sikap kritis yang tinggi.

Baca Juga :  Sedang Fly, Pemuda Mojokerto Diringkus

“Seharusnya ditanamkan budaya kritis pada pemilih pemula, itu sebagai pintu masuk untuk merubah pemahaman negatif yang selama ini mereka terima,” tambahnya.

Jenis juga mengatakan untuk menumbuhkan budaya politik yang positif tanpa adanya politik uang tentu harus dilakukan semua elemen, baik penyelenggara pemilu, tokoh masyarakat dan komunitas-kokunitas lainnya.

“Instansi terkait harus sama-sama bersinergi untuk mengawal pilkada ini menjadi sebuah proses demokrasi yang menarik tapi tetap harus jujur dan adil,” pungkas Jeny Yudha Utama, pengamat politik dari universitas Islam Mojopahit (Unim) Mojokerto.(sma)