Kemarau Panjang, 8 Desa di Mojokerto Kekeringan

Langganan di Ngoro dan Dawar Blandong

Musim kemarau panjang yang terjadi di Mojokerto diprediksi BMKG bakal berakhir pada November mendatang. Namun, dampaknya sudah banyak terasa di Mojokerto. Diantaranya kebakaran hutan dan lahan serta beberapa desa mengalami kekeringan.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, beberapa desa di Mojokerto yang mengalami kekeringan diantaranya di wilayah
Kecamatan Ngoro. Yakni, Desa Kunjorowesi, Kutogirang, Manduro Manggung Gajah serta Sumberan. Serta di wilayah Dawarblandong. Yakni, Desa Pulorejo, Simongagrok, Cinandang dan Bayu legi.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mojokerto, M Zaini mengatakan, jumlah desa yang mengalami kekeringan tahun ini mengalami peningkatan. Kalau tahun lalu hanya empat desa sekarang menjadi delapan.

Zaini juga mengatakan, seharuanya, sejak tahun 2017 wilayah kecamatan Dawarblandong terbebas dari bencana kekeringan, Namun karena sebagian besar karyawan menggunakan sumber air Weslik, dampaknya saat kemarau panjang sumber air mengecil dan tak mampu memenuhi kebutuhan warga.

Selain itu, di Dawarblandong sering terjadi gangguan PLN. sehingga membuat kekeringan semakin parah. Ditambah lagi, di kawasan Ngoro dan Dawarblandong sering menjadi langganan kekeringan.

Masih kata Zaini, di tahun 2019 nanti pihaknya akan berupaya agar warga segera beralih kepada PDAM sehingga tidak ada lagi kekeringan di wilayah tersebut. “Kita masih berupaya mengatasi masalah kekeringan secara permanen, harapannya sudah tidak ada lagi bencana kekeringan di Mojokerto,” pungkasnya.(fam/udi)