Kode Rahasia Suap Bupati Mojokerto MKP Dibuka Nono di Sidang Tipikor

Sidang Lanjutan Bupati MKP di Tipikor Surabaya

Slider

Sidang kasus suap senilai Rp 3,7 miliar dengan terdakwa Mustofa Kamal Pasa (MKP), Bupati Mojokerto non aktif terus menggelinding dan membuka sejumlah rahasia yang selama ini tersimpan rapi.

Informasi yang dihimpun suaramojokerto.com, rahasia suap itulah yang dibongkar jaksa KPK setelah sejumlah saksi dihadirkan dalam persidangan. Salah satunya, Nano Santoso Hudiarto alias Nono, orang dekat MKP.

Kepada majelis hakim, Nono mengaku menjadi kurir dalam setiap gratifikasi yang diterima MKP dan uangnya langsung diserahkan ke MKP melalui ajudannya, Lutfi Arif Muttaqin. Dia mengaku tidak pernah mendapat untung hingga akhirnya pada tahun 2015 dirinya mengaku mundur.

Nono juga menceritakan, ada beberapa kode rahasia atau istilah yang digunakan untuk melancarkan aksi korupsi tersebut. Mulai dari sebutan nama hewan hingga ukuran gula dan beras.

Kode rahasia tersebut terungkap ketika jaksa KPK pada sidang Senin (3/12) lalu memutar rekaman komunikasi antara Nono dengan MKP di pertengahan tahun 2015 silam dan terdengar jelas istilah yang mereka komunikasikan.

Seperti komunikasi pada 9 Juli pukul 06.41 WIB. Nono yang menghubungi MKP melalui HPnya menyampaikan progres penagihan uang suap PT Protelindo senilai Rp 1,650 miliar. ’’Saya sudah ketemu dobel B bos. Katanya akan bayar. Kalau tidak bayar, CRV tak ambile,’’ kata Nono. Double B yang dimaksut adalah istilah untuk menyebut Bambang Wahyuadi.

Baca Juga :  Tak Terima Surat Resmi, Tim Kuasa Hukum Kades Kedungmaling Tolak Sidang di Tipikor

Jaksa juga membuka penyadapan suara pada 7 Agustus petang. Dalam rekaman itu MKP menanyakan perkembangan penagihan kekurangan uangnya karena dari Rp 2,2 miliar hanya terdistribusi Rp 550 juta. ’’Bedes (monyet) iku yo opo?’’ kata MKP ke Nono. Istilah Bedes juga untuk Bambang Wahyuadi.

Selain Bambang, MKP juga menyebut kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Kabupaten Mojokerto Ludfi Ariyono dengan panggilan sapi. Pembicaraan ini terdengar sangat jelas dalam rekaman yang diputar di sidang tipikor. ’’IPPR (Izin Prinsip Pemanfaatan Ruang) wes tak tandatangani. Paranono sapi, onok 3 pekerjaan,’’ kata MKP.

Nono juga menceritakan ada beberapa istilah untuk penyebutan uang, Nono dan MKP kerap menyebut dengan istilah gula dan beras dengan satuan kilogram.

Kepada majelis hakim, Nono mengaku kepercayaan yang diberikan MKP kepada dirinya karena dianggap sukses menjadi tim sukses saat pilkada di tahun 2010 silam yang mengantarkan MKP sebagai Bupati Mojokerto. Namun dirinya mengaku sudah mundur sebagainorang kepercayaan dan kurir gratifikasi pada tahun 2015 lalu.(sma/udi)