Banyu Jolotundo Mojokerto, Kualitasnya Dibawah Air Zam Zam, Bikin Awet Muda dan Cantik

Potensi wisata di wilayah Kabupaten Mojokerto memang luar biasa. Mulai unsur alam, sejarah, hingga wisata religi.

Namun ada satu destinasi wisata yang memiliki perpaduan unsur-unsur tersebut. Yakni sebuah kolam eksotis tempat pemandian keluarga Majapahit masa lalu, bernama Petirtaan Jolotundo.

Lokasinya berada di lereng bukit Bekal, satu puncak gunung Penanggungan Kecamatan Trawas.

Petirtaan Jolutundo dalam beberapa ulasan, bahkan disebut-sebut memiliki kualitas air terbaik di dunia setelah zam-zam di Saudi.
Air Jolutundo yang tersohor itu, kerap dijuluki bisa bikin awet muda.

Mitos yang beredar di masyarakat Jawa menyebutkan bahwa siapa saja yang mandi di kolam petirtaan Julolotundo akan memiliki wajah tampan dan cantik layaknya punggawa Istana kerajaan Majapahit.

Hasil penelitian oleh para ahli hidrogeologi menyebut, mata air pegunungan vulkanik memenuhi tiga syarat karakterisitik sumber air tanah yang baik. Mencakup kuantitas, kualitas dan kontinuitas. Jolotundo punya tiga modal tersebut.

Mata air di kolam Petirtaan Jolotundo, juga dikelilingi oleh bebatuan candi yang dapat sekaligus berfungsi sebagai akuifer buatan atau suatu batuan atau formasi yang memiliki kemampuan menyimpan dan mengalirkan air tanah dengan jumlah berarti.

Tiap malam Jumat, Jolotundo juga banyak diserbu para pelancong untuk mandi dan mengalap ‘berkah’, terutama malam satu Muharram atau.malam satu suro.

Pada peringatan malam satu suro, seperti biasanya, ribuaan warga dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Ruwat Sumber Petirtaan Jolotundo di Dusun Biting, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas Kabupaten Mojokerto.

Berita Terkait :  Ribuan Warga Ikuti Ruwatan Mata Air di Petirtaan Jolotundo, Mojokerto

Acara ruwatan 32 titik sumber air di Petirtaan Jolotundo ini digelar secara rutin setiap tahun di bulan Suro. Antusias warga yang berebut berkah dan ingin awet muda memadati lokasi wisata budaya di lereng gunung penanggungan ini.

Mereka datang dari berbagai daerah, seperti Lamongan, Bojonegoro, Sidoarjo dan Surabaya. Bahkan ada yang dari Bali dan Luar Jawa.

Prosesi ruwatan dengan mengambil air dari 32 titik sumber di sekitar gunung Penanggungan untuk dikumpulkan jadi satu dengan prosesi arak-arakan tumpeng hasil bumi diyakini sebagai ritual menjaga kelestarian sumber air yang menjadi kebutuhan mutlak manusia. Air yang telah disatukan melalui prosesi ini dipakai siraman dan diminum untuk mendapatkan berkah.

Pungkasiadi, Wakil Bupati Mojokerto mengatakan, Kabupaten Mojokerto terus menggali ceruk-ceruk wisata. “Kami eksplore terus. Potensi wisata kita harus terus digali, sebab potensinya sangat banyak,” ujarnya.

Kata Pungkasiadi, potensi wisata tersebut di antaranya yakni, wisata sejarah Majapahit di Kacematan Trowulan, wisata religi Syekh Jumadil Kubro, wisata alam dan panorama di kawasan selatan yakni Pacet dan Trawas, juga ada di utara sungai yakni Waduk Tanjungan.

“Tahun 2019 ini sarana prasarana penunjang pariwisata akan terus kami lengkapi. Seperti akses jalan harus lebar dan lega,” kata Pungkasiadi.(sma/udi)

Baca juga :